Sorotan:
- Iran minta laga dipindah dari AS ke Meksiko, FIFA menolak
- Laga Mesir vs Iran di Seattle bertepatan dengan perayaan Pride bulan Juni
- Kedua federasi sepak bola menolak segala simbol LGBTQ+ di area pertandingan
SEATTLE — FIFA menolak permintaan Iran memindahkan laga Piala Dunia 2026 dari Amerika Serikat ke Meksiko, sementara perayaan “Pride Match” antara Mesir dan Iran di Seattle, 26 Juni 2026, tetap berjalan sesuai jadwal awal.
🔖 Simpan artikel ini untuk perkembangan terbaru.
Latar Belakang: Bagaimana Laga Ini Ditentukan

Drawing final Piala Dunia 2026 digelar 5 Desember 2025 di Kennedy Center, Washington DC, menempatkan Mesir dan Iran bersama Belgia dan Selandia Baru di Grup G, menurut data resmi yang dikutip Wikipedia dan Roadtrips. Seluruh laga Grup G dimainkan di tiga venue: SoFi Stadium Los Angeles, Lumen Field Seattle (disebut “Seattle Stadium” selama turnamen karena aturan sponsorship FIFA), dan BC Place Vancouver.
Sesuai jadwal yang dirilis FIFA, laga Mesir vs Iran ditetapkan di Lumen Field pada Jumat, 26 Juni 2026, pukul 23.00 waktu setempat, menurut Yahoo Sports. FIFA memilih Seattle untuk laga ini, bukan Vancouver — tempat Belgia melawan Selandia Baru pada jam yang sama — menurut laporan Independent dan AOL.
Masalahnya, panitia lokal Seattle PrideFest, nonprofit yang telah menggelar parade Pride di kota itu sejak 2007, sudah menetapkan tanggal 26 Juni sebagai bagian perayaan Pride bulanan jauh sebelum hasil drawing diketahui, menurut NBC News. Saat jadwal grup keluar, slot itu otomatis bertabrakan dengan laga dua negara yang menerapkan hukum keras terhadap komunitas LGBTQ+.
Konteks: Mengapa Ini Penting?

Iran sempat mengajukan permintaan terpisah agar seluruh laganya direlokasi dari Amerika Serikat ke Meksiko, dengan alasan eskalasi konflik Iran–AS di Timur Tengah. Permintaan itu ditolak FIFA, menurut laporan Al Jazeera yang dikutip MyNorthwest.com.
“Sebuah langkah tidak rasional yang mendukung kelompok tertentu” — Mehdi Taj, Presiden Federasi Sepak Bola Iran (dikutip kantor berita ISNA, Juni 2026)
Taj menyampaikan keberatan itu lewat wawancara televisi negara Iran, dan berencana mengangkat isu tersebut dalam pertemuan Dewan FIFA di Qatar, menurut ESPN yang dikutip AOL.
Reaksi dan Dampak

Federasi sepak bola Mesir dan Iran sama-sama menolak segala bentuk aktivitas bertema Pride di sekitar laga tersebut. Federasi Mesir bahkan mengirim surat resmi kepada Sekretaris Jenderal FIFA, Mattias Grafström, menegaskan keberatan mereka terhadap kegiatan apa pun yang berkaitan dengan LGBTQ+ pada laga itu.
“Menolak secara kategoris segala aktivitas yang mendukung homoseksualitas selama pertandingan” — Federasi Sepak Bola Mesir (surat resmi ke FIFA, dikutip NBC News)
Federasi Mesir juga meminta FIFA menghentikan perayaan tersebut demi menghindari “sensitivitas budaya dan agama” antara suporter kedua negara, menurut ESPN. Permintaan itu beralasan: homoseksualitas dapat dijerat hukuman penjara di Mesir, sementara di Iran hubungan sesama jenis termasuk kategori tindak pidana berat dalam KUHP berbasis hukum Islam dengan ancaman hukuman mati, menurut laporan favs.news.
Di sisi lain, panitia lokal Seattle menegaskan akan tetap melanjutkan rangkaian acara Pride di luar stadion sepanjang bulan Juni. Mereka bahkan telah menggelar lomba seni bertema laga ini, termasuk satu karya berupa matahari berbendera pelangi di atas Gunung Rainier dengan kiper kepiting memegang cangkir kopi, menurut laporan NBC News.
FIFA sendiri hanya memiliki kewenangan atas area stadion dan zona penonton resmi, bukan acara komunitas di luar venue. Kebijakan FIFA tetap mengizinkan penonton membawa bendera pelangi berukuran standar ke dalam stadion, menurut laporan GLAAD. GLAAD juga mencatat bahwa ejekan bernuansa homofobik dalam sorakan suporter masih menjadi masalah berulang di sepak bola pria secara umum.
Suara dari Seattle

Wali kota terpilih Seattle, Kate Wilson, menyambut positif kebetulan jadwal ini lewat unggahan media sosial yang menyebut momen tersebut sebagai bukti kota itu terbuka bagi semua orang, menurut kutipan NBC News dan Independent. Juru bicara panitia FIFA World Cup 2026 Seattle, Hana Tadesse, menambahkan bahwa kawasan Pacific Northwest merupakan rumah bagi salah satu komunitas diaspora Iran dan Mesir terbesar di Amerika Serikat, sehingga perayaan ini juga merepresentasikan warga lokal keturunan kedua negara tersebut.
Panitia lokal menyebut laga ini sebagai momen langka untuk menampilkan dan merayakan komunitas LGBTQIA+ di Washington, sebagaimana dikutip NBC News.
Apa Selanjutnya?

Laga Mesir vs Iran akan berlangsung 26 Juni 2026 pukul 23.00 waktu setempat di Lumen Field, sebagai laga ketiga sekaligus penutup fase grup bagi kedua negara. Sebelum itu, Mesir akan terlebih dahulu bermain di Vancouver melawan Selandia Baru, sementara Iran menghadapi Belgia di Inglewood, California, menurut jadwal yang dirilis ESPN.
Mehdi Taj dikabarkan akan membawa isu ini ke pertemuan Dewan FIFA di Qatar pekan depan. Belum ada indikasi FIFA akan mengubah keputusannya terkait lokasi maupun kebijakan simbol Pride di dalam stadion.
Bagi publik Indonesia, isu ini relevan sebagai gambaran bagaimana FIFA menyeimbangkan kebijakan inklusi dengan sensitivitas budaya negara peserta — dinamika yang juga akan diuji saat tim-tim dari kawasan dengan latar belakang budaya beragam tampil di putaran final Piala Dunia 2026 yang melibatkan 48 negara untuk pertama kalinya.
Baca Juga Prabowo Gerak Senyap Libatkan PPATK-BPKP Sebelum Copot 3 Pimpinan BGN
Tanya Jawab Singkat
Kapan laga Mesir vs Iran digelar?
Jumat, 26 Juni 2026, pukul 23.00 waktu setempat di Lumen Field, Seattle.
Mengapa laga ini disebut “Pride Match”?
Karena bertepatan dengan rangkaian perayaan Pride bulanan yang sudah dijadwalkan Seattle PrideFest sebelum hasil drawing grup diketahui.
Apakah FIFA mengubah lokasi laga?
Tidak. FIFA menolak permintaan Iran untuk memindahkan seluruh laganya ke Meksiko, dan laga di Seattle tetap berjalan sesuai jadwal.